Selasa, 21 April 2009
Tertawa Sembuhkan Penyakit Diabetes
Ungkapan bahwa tertawa itu sehat, agaknya memang terbukti oleh hasil penelitian terbaru. Nyatanya para ahli memang menerapkan terapi tertawa bagi pasien penderita diabetes, jantung dan penyakit berat lainnya.
Dilansir melalui Live Science, Senin (20/4/2009), para peneliti dari Loma Linda University menganalisa sebanyak 20 orang pasien dengan resiko tinggi mengidap diabetes. Para pasien ini juga diketahui mengalami hipertensi dan hiperlipidemia, penyebab penyakit kardiovaskular. Para penderita penyakit ini kemudian dibagi menjadi dua kelompok.
Kedua kelompok diberikan standar pengobatan diabetes yang sama. Namun bedanya, kelompok pertama yang dinamakan Group L secara rutin diberi terapi humor selama 30 menit. Sementara grup kedua, yaitu Group C tidak mendapat terapi yang sama. Untuk melihat perkembangannya, perlakuan ini diberikan pada pasien dan diawasi dalam kurun waktu satu tahun.
Nyatanya, setelah 12 bulan, Group L menunjukkan peningkatan kolesterol baik yang disebut HDL sebesar 26 persen. Pada Group C peningkatan kolesterol hanya naik sekira tiga persen.
Sementara itu, protein C-reactive yang merupakan penanda terjadinya peradangan penyakit kardiovaskular menurun sebesar 66 persen pada pasien yang diberi terapi tertawa sementara yang terjadi pada kelompok lainnya tingkat peradangan penyakit ini hanya menurun sebesar 26 persen.
"Kebanyakan dokter ahli memahami bahwa keadaan psikologi yang baik dapat membentuk emosi positif seperti tertawa riang, rasa optimis dan rasa harap yang membatu proses penyembuhan penyakit," ujar Lee Berk dari Loma Linda University.
Penelitian lain pun mengungkapkan bahwa humor dapat membantu kita menjadi pribadi yang penuh harap dan rasa optimis.
Selengkapnya...
- Label: sains
- (0) Comments
Sabtu, 18 April 2009
Satelit Compass G2 Perkuat GPS China
Badan luar angkasa China telah meluncurkan satelit navigasi terbarunya dari pangkalan pesawat luar angkasa Xichang di provinsi Sichuan sebelah selatan China.
China berhasil meluncurkan satelit bernama Compass G2 pada orbit transfer geostasioner atau GTO pada 1616 GMT (12:16 pm EDT). Satelit ini nantinya akan digunakan untuk menambah kemampuan jelajah teknologi pencari jejak (GPS) China yang bernama Beidou Navigation System.
Sebagaimana dilansir oleh Softpedia, Jumat (17/4/2009), GTO terbaru memiliki kedudukan dengan tinggi poin sebesar 22,250 mil serta poin rendah pada 125 mil. Sekali meluncur, Compass G2 akan bergerak mengarah ke orbit dengan ketinggian hingga 22.300 mil.
Peluncuran satelit baru ini menyejajarkan China dengan negara-negara Eropa, Amerika dan Rusia, yang terkenal mahir dalam menciptakan sistem satelit mutakhir untuk kepentingan sistem pencari lokasi.
Pejabat negara menyebutkan keyakinannya bahwa Beidou Navigation System akan mampu bekerja dengan sistem yang telah dibangun sebelumnya. Jika misi peluncuran ini sempurna, satelit ini akan memungkinkan China memiliki cakupan tanpa batas di seluruh dunia.
China menyimpan harapan yang besar akan sistem ini. Mereka berharap pada 2015 nanti satelit ini dapat bersaing ketat dengan GPS (Global Positioning System) milik Amerika Serikat yang merajai industri mobil, telepon seluler, PDA dan industri lain yang menggunakan aplikasi GPS. Selain itu, Beidou Navigation System juga diharapkan mampu bersaing dengan Galileo Positioning System milik negara-negara di Eropa, serta Global Navigation Satelite (Glonass) milik rusia.
Selengkapnya...
- Label: sains
- (0) Comments
Minggu, 05 April 2009
Teleskop Raksasa Dapat Temukan Planet Seperti Bumi
Para ilmuwan berencana membangun teleskop raksasa yang nantinya berfungsi untuk mengenali planet yang dapat dihuni seperti Bumi dengan menggunakan sistem solar jarak jauh.
Ahli Astronomi mengklaim teleskop raksasa buatan Eropa ini nantinya akan menjadi teleskop optik pertama yang mampu memilah cahaya redup yang dipantulkan oleh planet sebagai orbit bintang.
Terobosan baru dalam ilmu alam ini nantinya dapat digunakan untuk menemukan planet hingga jarak 100 juta mil jauhnya, demikian dikutip dari Telegraph, Senin (6/4/2009).
Cahaya petunjuk yang datang dari planet yang ditemukan dapat mengungkapkan jenis air yang terdapat pada permukaan planet, serta udara yang melingkupi atmosfernya. Selanjutnya akan diteliti apakah planet tersebut dapat dihuni atau tidak.
Teleskop senilai satu miliar ini memiliki lebih banyak gelas kaca dibandingkan dengan teleskop lain di dunia. Disinyalir teleskop ini berkekuatan besar sehingga Astronom dapat menggunakannya untuk memantau Bulan
Dengan teleskop ini, mereka juga dapat melihat ukuran mobil penjelajah bulan yang tertinggal pada saat misi Apollo.
Isobel Hook, dari Oxford University mengatakan, "Komunitas astronomi telah berkembang sangat pesat. Hal itu ditandai dengan adanya proyek ini, pembuatan teleskop raksasa memungkinkan kita untuk melihat gambar yang lebih tajam."
"Penemuan ini merupakan resolusi yang bisa membuat kita dapat melihat struktur dan objek di alam semesta yang belum kita ketahui hingga sekarang" tambahnya.
Selengkapnya...
- Label: sains
- (0) Comments
Science Matahari Tidak Akan Dekat Dengan Bumi Sebelum Kiamat
Munculnya pesan singkat (SMS) yang menyebutkan kalau, Matahari akan semakin dekat, langsung dibantah oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Menurut mereka, hal tersebut mustahil terjadi.
"Mustahil kalau Matahari akan semakin dekat dengan Bumi. Karena, Bumi sudah berjalan pada jalur yang sudah ditentukan," ungkap ujar Soetanto, Kepala Sub Dinas Informasi Iklim, Agro Klimat dan Iklim udara, BMKG, saat di hubungi melalui selulernya, Senin (6/4/2009).
Menurut Soetanto, mendekatnya Bumi masih mungkin terjadi, dan itu yang disebut dengan titik terdekat, Namun dia menegaskan, jaraknya sangat relatif, dan terjadi pada beberapa tahun saja. Ditambahkan juga, Matahari bisa semakin dekat hanya terjadi jika keluar dari jalurnya. Itu baru mungkin terjadi, kalau Tuhan berkehendak,� dan itu berarti tanda-tanda kiamat sudah semakin dekat.
"Jalur Bumi terhadap Matahari itukan elips. Jadi, ada yang namanya titik terjauh dan terdekat. Tapi, jarak waktunya bukan harian. Itupun panasnya, tidak terlalu terasa," tandasnya
Selengkapnya...
- Label: sains
- (0) Comments
Sabtu, 04 April 2009
Sumber Energi Mikroba Mampu Hasilkan Listrik
Makhluk hidup kecil bernama mikroba ternyata dapat menghasilkan listrik dengan mengubah karbondioksida dan air menjadi gas metana, kemudian menghasilkan sumber energi portable yang berpotensi mengandung carbon footprint netral.
"Kami belajar membuat hidrogen dari sel electrolysis microbial dan menyimpan gas metana yang dihasilkannya," ujar Bruce E Logan, dari Penn State yang dikutip Science Daily, Selasa (31/3/2009).
Mikroorganisme Methanogenic memproduksi gas metana dalam rawa dan sampah. Namun para ilmuwan berpikir bahwa organisme ini mengubah hidrogen atau material organik seperti acetate menjadi metana. Bagaimanapun, ketika mencoba menghasilkan hidrogen dalam sel microbial electrolysis, para ahli menemukan bahwa sel tersebut menghasilkan lebih banyak metana dari yang diharapkan.
Sel microbial electrolysis memerlukan tegangan listrik sebagai tambahan tenaga listrik yang dihasilkannya melalui material organik guna menghasilkan arus yang berkembang menjadi hidrogen.
Peneliti menyebutkan bahwa Archaea, dengan input listrik yang sama, memanfaatkan arus untuk mengubah karbondioksida dan air menjadi gas metana tanpa bantuan material organik, bakteri atau hidrogen yang biasa ditemukan dalam sel microbial electrolysis.
"Pada penelitian ini kami menemukan mikroba yang bersifat abadi dan dapat langsung menerima elektron," ujar Logan.
Tim peneliti ini menciptakan dua bilik sel. Salah satu bilik diberikan anoda dan katoda, sementara pada bilik lainnya terdapat inorganic nutrient dan karbondioksida. Ketika diuji coba, keduanya menghasilkan tegangan, namun hanya beberapa menit saja. Kemudian mereka melapisi katoda dengan biofilm Archaea. Hasilnya, tak hanya menghasilkan arus listrik, sel tersebut juga dapat memproduksi metana.
Keefektifan sel dalam mengubah listrik menjadi metana dinilai sebesar 80 persen. Karena sel ini membutuhkan karbondioksida, maka jika arus listrik berasal dari sumber non karbon seperti solar atau tenaga angin, energi yang dihasilkan akan bersifat karbon netral.
Selengkapnya...
- Label: sains
- (0) Comments
Es di Kutub Utara Menghilang 30 Tahun Lagi
Kekhawtiran akan melelehnya es di kutub utara semakin menjadi. Dari analisis yang menggunakan komputer terungkap, kalau es di kutub utara akan menghilang pada 30 tahun lagi.
"Kutub utara ternyata, berubah lebih cepat dari apa yang dipikirkan orang," kata James Overland, oceanographer dari Laboratorium Lingkungan Kelautan (NOAA), seperti yang dikutip Reuters, Sabtu (4/4/2009).
"Ada kombinasi yang menyebabkan percepatan ini terjadi antara kondisi alam dengan kelakuan manusia. Kombinasi itu gabungan dari air hangat dan kondisi laut yang disebabkan oleh peningkatan gas rumah kaca," tambahnya.
Hasil penelitian ini sendiri, menggunakan enam model komputer, termasuk diantaranya tiga komputer canggih yang khusus meneliti tentang kadar keadaan laut di kutub utara. Setelah itu, data mengenai es yang telah mencair pada 2007 dan 2008, dikombinasikan. Dan hasilnya diketahui, es akan menghilang dari kutub utara pada 30 tahun mendatang
Selengkapnya...
- Label: sains
- (0) Comments
Rabu, 25 Maret 2009
Mahluk Laut Tertua Berusia 4.000 Tahun
HAWAI - Tahukah anda? Terumbu karang dalam laut merupakan makhluk hidup laut berkerangka tertua. Demikian hasil penelitian terbaru yang dikutip dari Live Science, Selasa (24/3/2009).
Tim ahli menemukan spesies terumbu karang tua di kepulauan Hawai yang ternyata telah berusia 4.256 tahun. Terumbu karang tersebut terancam punah oleh perubahan cuaca, polusi dalam air, dan pendangkalan kedalaman laut sekira 300 sampai 3.000 meter.
Spesies hampir punah ini menjadi tempat berlindung bagi berbagai makhluk laut, selain juga merupakan pusat keragaman biota laut. Bukit karang terbesar di dunia terdapat di Australia, yaitu Great Barrier Reef off the coast of Queensland, wilayah pantai sepanjang Mexico dan Belize, serta Bahama dan Maldives pun menyimpan spesies langka ini.
Brendan Roark dari Universitas A&M, Texas, beserta timnya mengukur rangka spesimen dari Hawai tersebut melalui pengukuran radiokarbon. Hasilnya, diketahui makhluk laut tertua itu berumur 4.265 tahun.
Roark mengatakan riset ini mengundang perhatian akan pentingnya pelestarian terumbu karang yang hampir punah.
"Kami menghimbau agar generasi penerus dapat melestarikan terumbu karang," pungkasnya.
Dua contoh spesies yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah Gerardia (spesies karang berwarna emas) dan Leiopathes (spesies karang berwarna hitam)
Selengkapnya...
- Label: sains
- (0) Comments
600 Spesies Baru Ditemukan di Papua New Guinea
Habitat alam pegunungan Papua New Guinea yang terpencil ternyata menyimpan banyak makhluk langka.
Ahli sains menemukan, lebih dari 50 spesies baru di sana di antaranya kodok hijau bermata besar, laba-laba melompat, dan tokek bergaris. Basis Konservasi International di Washington D.C. mengumumkan hasil temuannya hari ini, sebagaimana dilansir AP, Rabu (25/3/2009).
Untuk menemukan ragam spesies ini, para ilmuwan memerlukan waktu berbulan-bulan untuk meneliti lebih dari 600 spesies hewan yang ditemukan selama penjelajahan di pulau Pasifik Utara pada Juli dan Agustus tahun lalu.
"Jika anda menemukan sesuatu yang baru dan mengagumkan, artinya terdapat banyak hal di luar sana yang tidak kita ketahui," ujar pemimpin ekpedisi ilmiah Steve Richard.
"Saya tak henti-hentinya mengagumi spesies temuan di pulau itu," tambahnya.
Dalam penelitian ini Steve beserta timnya mnemukan 50 spesies laba-laba, 3 ekor kodok dan seekor tokek yang belum pernah ada dalam catatan ilmiah sebelumnya. pada temuan spesies kodok baru. Termasuk pula jenis hewan kecil berwarna coklat dengan suara dengkiran yang tajam, kodok hijau bermata lebar, dan kodok lainnya diketahui dapat mengeluarkan bunyi yang sangat kencang. Salah satu spesies laba-laba melompat yang ditemukan berwarna hijau pucat berkilau, sementara yang lainnya berwarna coklat dan memiliki bulu.
Para ilmuwan Konservasi Internasional menjelajah wilayah Papua New Guinee ditemani oleh ilmuwan setempat yang berasal dari Universitas Colombia dan Universitas Montclair di New Jersey.
Wilayah penjelajahan yang diteliti termasuk ke dalam kategori daerah yang menuai kritik masalah air minum bersih bagi sepuluh ribu orang yang bergantung hidup pada komunitas sekitarnya.
Konservasi Internasional berencana untuk 3 ekspedisi Papua New Guinea berikutnya di tahun ini dengan harapan menemukan lebih banyak lagi spesies baru
Selengkapnya...
- Label: sains
- (0) Comments

